Fenomena “akademis-praksis” dalam Sustainable Building Conference 2005 (SB05) di Tokyo pada awal Oktober tahun lalu adalah banyaknya varian alat atau sistem untuk menilai atau mengevaluasi bangunan dan lingkungan disesuaikan dengan indikator ramah lingkungan atau pun indikator berkelanjutan (sustainable building environmental assessment tool-SBEAT). 

Standar ramah lingkungan ini jika ditransformasikan ke dalam ukuran maupun sistem baku meliputi beberapa aspek lainnya seperti resource consumption and energy balance systemlife cycle analysiseco-efficiency standardeco-scarcity and eco-toxicology, dan sebagainya. Konferensi internasional bangunan berkelanjutan itu sendiri diselenggarakan setiap 3 tahun sekali, dengan diselingi beberapa pertemuan sejenis di tingkat regional. Tak kurang dari 2000 orang hadir untuk mempresentasikan hasil riset atau temuan mereka.

Masing-masing negara atau kawasan mengusung alat atau sistem sejenis dengan beragam nama. Di tataran Asia telah dipelopori oleh Hongkong dengan Hong Kong Building Environmental Assessment Method (HK BEAM) dan Jepang dengan Comprehensive Assessment System for Building Environmental Efficiency (CASBEE). Untuk kawasan Eropa mereka mengandalkan Advanced Life Cycle Assessment (Advanced-LCA), sedang Inggris memilih untuk menggunakan Building Research Establishment’s Environmental Assessment Method (BREEAM). Kanada banyak memanfaatkan Green Building Tool (GBTool) yang diadopsi pula oleh Korsel dan 14 negara lain, sedang Amerika Serikat menggunakan produk andalan mereka, Leadership in Energy and Environmental Design (LEAD). 

Jika dicermati negara-negara maju berlomba-lomba mengaplikasikan SBEAT sebagai alat atau nilai baru yang secara formal telah banyak diandalkan sebagai sistem evaluasi bangunan dan lingkungan (building-environment benchmarking). Tulisan singkat ini akan mengetengahkan latar belakang perlunya alat atau sistem evaluasi ini, beberapa karakter dari SBEAT yang populer, dasar-dasar penilaiannya, dan cakupan aplikasinya. 

Sistem nilai atau evaluasi untuk bangunan dan lingkungan telah berkembang seiring dengan perkembangan hampir dua dasawarsa isu pembangunan berkelanjutan yang dirilis oleh Komisi Dunia untuk Lingkungan dan Pembangunan (World Commission for Environment and Development) pada tahun 1987. Satu dekade awal diawali dengan studi-studi dalam memformulasikan beberapa kriteria dan aspek pembangunan berkelanjutan, kemudian dilanjutkan dengan usaha penyusunan indikator-indikatornya yang mencakup semua aspek kehidupan manusia. 

Kemudian dekade berikutnya mulai aplikasinya ke dalam alat atau sistem evaluasi ini. Hal ini memang sedikit terlambat, sebab laju pembangunan pun relatif lebih cepat. Satu poin penting dari alat-alat ini adalah cakupan penilaiannya, mulai dari pra sampai pasca bangun pada umumnya bisa diatasi. Syaratnya hanya kelengkapan data dari bangunan-lingkungan itu sendiri. Poin penting lainnya adalah berada di tataran kebijakan, yakni upaya beberapa pemerintahan (negara) yang mengupayakan penilaian ini sebagai prosedur resmi, didukung dengan sejumlah aturan-aturan untuk ditaati, terutama untuk pembangunan baru atau pembangunan kembali (rebuild,redevelopment).

Dari beberapa alat atau sistem evaluasi itu rata-rata mempunyai cara kerja yang hampir sama, yakni adanya kriteria dasar penilaian yang dipakai. Masing-masing kriteria itu secara detil dijabarkan untuk diberi bobot (skor/poin) sesuai standar yang berlaku. Misalnya untuk CASBEE Jepang yang selesai didisain pada 2003 lalu, menggunakan enam kategori untuk dinilai, yakni indoor environmentquality of serviceoutdoor environment on siteenergyresource and materials, dan off-site environment (lihat Gambar 1).


Gambar 1. Klasifikasi penilaian ke dalam kategori kualitas (quality) dan beban (loading) pada Building Environment Efficiency (BEE) (sumber: CASBEE for New Construction, 2004)

Studi yang dilakukan Kawazu dkk. (2005), dengan menggunakan sebuah kasus sama dengan 4 alat/sistem menunjukkan bahwa BREEAM (Inggris, 1990) dan CASBEE (Jepang, 2003) menghasilkan hasil evaluasi yang sedikit lebih tinggi daripada GBTool (Kanada, 1998) dan evaluasi terendah diberikan oleh LEAD (Amerika Serikat, 1998). Ini tentu saja tergantung dari rangkaian sistem yang digunakan pada sistem tersebut dan standar penilaian yang dapat dipengaruhi oleh referensi penilaian, pertimbangan lokal, dan faktor konversi lainnya.

Dewasa ini, alat-alat ini lebih praktis berupa computer-aided assessment tool dan dapat digunakan oleh berbagai kalangan, mulai masyarakat, akademisi, sampai pemerintah untuk mengeluarkan sertifikasi bangunan-lingkungan. Cakupan evaluasinya pun luas, mulai dari proyek skala single building sampai regional development, dengan cakupan putaran atau proses tahapan proyek yang beragam: mulai dari tahap awal disain, tahap konstruksi, tahap pemakaian, operasi dan perawatan, sampai tahap penghancuran atau pembangunan kembali. 

Secara garis besar ada dua output yang dihasilkan, yakni quality danloading. Kualitas (quality) berhubungan dengan performa bangunan-lingkungan untuk pengguna yang diinduksi oleh berbagai faktor dan perhitungan dari data yang terdapat pada wilayah “dalam” (private property). Sedangkan beban (loading) adalah merepresentasikan output yang mempunyai dampak bagi lingkungan “luar” (public property). Semua hasil evaluasi ini bisa diderivasi ke dalam banyak format penyajian.


Gambar 2. Shizuoka Taisei Junior/Senior High School di Shizuoka oleh Arsitek Itsuko Hasegawa Atelier (sumber: Nikkei Architecture, 2005)

Dalam perkembangannya, alat atau sistem ini menjadi referensi awal simulasi bangunan atau lingkungan dalam tahap disain awal (preliminary design). Namun demikian, karena isu keberlanjutan ini tidak hanya mencakup satu-dua aspek, yakni aspek lingkungan (fisik) dan aspek sosial, maka perlu pula dicari sebuah sistem penilaian yang mampu menampung aspek ekonomi (lebih khusus pembiayaan pembangunan) yang cenderung mahal pada bangunan-lingkungan yang didisain untuk memenuhi syarat “berkelanjutan”. 

Sebagai contoh ditampilkan pada Gambar 2, sekolah baru di Kota Shizuoka Jepang yang telah disertifikasi memenuhi standar keberlanjutan (menggunakan CASBEE), namun dilaporkan biaya pembangunan yang melonjak untuk mencapai standar-standar yang disyaratkan itu. Dampak positifnya adalah perancang atau pengembang dihadapkan pada tantangan untuk berpikir strategis, komprehensif, dan inovatif untuk meramu semua prasyarat berkelanjutan.

Pencarian artikel ini: