Berbicara tentang minyak dan gas bumi tentu tidaklah asing bagi kita orang Indonesia. Tulisan ini akan mengupas sedikit lebih dalam tentang ladang minyak dan gas bumi pertama di Indonesia yang dikembangkan di perairan-dalam, bahkan sangat-dalam (ultra deepwater). Apa dan bagaimana teknologi yang terkait dengan pengembangan ladang ini
Floating Production Unit (FPU)
Sekitar 500 m dari TLP A dipasang sebuah FPU (Gambar 4), yaitu suatu struktur tongkang (barge) yang ditambat dengan sistim tambat menyebar (spread-mooring) di kedalaman 3.200 ft. Bangunan ini berfungsi sebagai pendukung fasilitas produksi dan tempat tinggal kru. Berat lambung FPU ini adalah 6.500 ton dan topsides-nya seberat 1.900 ton, sehingga berat totalnya menjadi 8.400 ton. Dirancang dengan kapasitas produksi 60.000 barel minyak per hari, 150 juta ft kubik gas perhari dan 40.000 barrel air per hari. Sebagian dari gas yang diproduksi yaitu maksimum 50.000 ft kubik perhari dapat diinjeksikan kembali ke dalam reservoir. Fluida hasil produksi masuk ke unit penyimpanan melalui suatu flowlines fleksibel.Flowlines adalah suatu sistim pipa yang mengalirkan fluida reservoir di dasar laut dari sumur ke riser.
Gambar 4. Sebuah struktur FPU yang terletak 500 m dari TLP-A
Sistem Pipa Laut (Pipelines) West Seno
Sebagaimana diketahui bahwa produksi Fase 1 sudah dimulai pada bulan Agustus 2003 yang mencapai 40.000 barrel perhari dan selanjutnya diprediksikan akan meningkat menjadi 80.000 barrel perhari setelah rampungnya Fase 2. Semua produk minyak dan gas ini selanjutnya akan disalurkan ke terminal Santan yang berjarak sekitar 40 mil melalui pipelineberdiameter 12 inchi. Minyak diukur dalam sebuah custody transfer metering system dan disimpan dalam tangki-tangki yang tersedia. Sementara itu produk gas diukur dan disalurkan melalui sistim pipelineyang sudah ada ke fasilitas LNG Bontang.
Semua sistim pipa penyalur tersebut dipasang secara tersendiri, segera setelah instalasi strukturnya. Untuk sistem pipa di West Seno ini digunakan Allseas DP vessel Lorelay sebagai kapal khusus untuk menginstalasi sistim pipa laut di kawasan laut-dalam (Gambar 5). Panjang sistem pipanya mencapai 1.600 m di lokasi FPU-nya. Sementara itu jarak total jalur pipa dari pantai ke ujung bagian SCR (Steel Catenary Riser) adalah 59,5 km dan akan dipasang secara terpisah. Untuk setiap jalur pipa pada tiap sepuluh sambungan, di ujung pipa dipasang strakes dan sambungan fleksibel sepanjang 5 ft di kedalaman lebih dari 343 m. Untuk keamanan, perlengkapan itu juga dilengkapi dengan piranti pencegah bukling (buckle arrestors).
Gambar 5. Sebuah kapal khusus untuk instalasi sistim pipa laut-dalam
Kentungan West Seno bagi Indonesia
“West Seno akan memberikan keuntungan yang berarti bagi Indonesia”, kata Brian W. G. Marcotte, presiden dari Unocal Indonesia Company. Proyek ini akan menghasilkan lebih dari 1 milyar US$ dari penerimaan dan pajak sepanjang umur proyek, membuka lapangan kerja dan peluang bagi bisnis-bisnis lokal, menambah produksi minyak baru dengan menurunnya produk dari ladang-ladang lama di Indonesia dan menumbuhkan investasi perairan-dalam tambahan bagi sektor energi. Minyak pertama dari ladang West Seno sampai di terminal pantai Santan pada tanggal 17 Agustus, bertepatan dengan hari kemerdekaan Republik Indonesia.
Selain itu, Unocal telah mencatat beberapa potensi komersial lainnya atas penemuan-penemuannya di area laut-dalam perairan Kalimantan Timur, yang diharapkan dapat segera dimanfaatkan pada beberapa tahun yang akan datang. Termasuk di dalamnya adalah penemuan cadangan gas yang cukup besar yang diperkirakan dapat memasok sekitar 40% kebutuhan pembangkit Bontang yang merupakan fasiltas LNG terbesar di dunia.
Dengan demikian sudah menjadi sebuah kenyataan bahwa ladang West Seno telah ditemukan pada bulan Agustus 1998, kemudian Rencana Pengembangannya atau POD (Plan of Development) telah disetujui oleh Pemerintah Republik Indonesia pada bulan September 1999, dan produksi pertama terlaksana pada bulan Agustus 2003. Dengan melaksanakan program pengembangan dan produksi secara inovatif dan effisien, Unocal Indonesia Company bekerja sama dengan Pemerintah Republik Indonesia melalui BP-Migas telah mampu memenuhi tantangan untuk mengkomersialisasikan ladang minyak dan gas bumi laut-dalam pertama di Bumi Indonesia.
Namun apakah cukup hanya sampai di situ saja? Tentu saja tidak, masih cukup banyak pertanyaan tersisa yang sekaligus akan menjadi peluang dan tantangan. Paling tidak diantaranya adalah apakah memang sudah menjadi kenyataan apa yang dikatakan oleh Mr.Marcotte di atas? Sudah berapa banyak para pakar anak negeri ikut berkecimpung dalam “drama teknologi laut-dalam” itu, sehingga tidak hanya jadi penonton di pinggir lapangan, sehingga apa itu yang disebut “transfer teknologi” bisa mulai bergulir ke arah kita. Tentunya disamping semua itu, yang tidak kalah penting adalah sudah berapa banyak manfaat ekonomi yang bisa dirasakan oleh rakyat Indonesia secara nyata, sehingga tidak hanya terdengar cerita-cerita miring seputar masalah penambangan di tanah air semacam “tragedi Free Port”, “tarik-ulur blok Cepu” dan entah apa lagi lainnya. “Era Teknologi Laut-dalam Indonesia” telah menunggu peran kita, sekaligus menantang kita.
Pencarian artikel ini:
- west seno FPU
- teori pipa minyak
- STRUKTUR TONGKANG MINYAK
- materi tentang pipa minyak
- lokasi ladang minyak dan gas di indonesia
- ladang minyak pertama diindonesia
- ladang ladang minyak laut indonesia
- ladang -landang minyak di indonesia\
- karangan tentang ladang-ladang minyak
- contoh produksi minyak dan gas laut dalam di indonesia



