Tujuan dasar proyek riset bangunan hiper di Jepang dibagi menjadi tiga. Pertama, ultra high-rise, yaitu menciptakan kota tiga dimensi dengan ketinggian super sehingga mampu menampung densitas penduduk yang tinggi pula. Kedua,ultra long life, yang berarti menciptakan sebuah stock-type city yang mampu memilihara kelangsungan hidup penduduk di dalamnya, menumbuhkan sumber-sumber kehidupan atau ruang baru, sehingga memungkinkan pembangunan kotanya terus-menerus, meskipun secara vertikal. Ketiga, ultra structure, yaitu dengan menciptakan sebuah bentuk super struktur bagi sebuah kota, yang mampu dikembangkan ke dalam struktur-struktur pengisi dan bersifat beda sama sekali dari arsitektur konvensional dewasa ini. 

Tampaknya tujuan kedua dan ketiga ini sangat mirip dengan konsep gerakan metabolism itu sendiri. Dalam pencapaiannya, beberapa masalah krusial seperti sistem transportasi dalam bangunan telah teridentifikasikan. Sistem angkutan untuk manusia dan barang dengan menggunakan high speed transit system yang memanfaatkan spiral transport systemwall-surface transit system untuk bidang dalam satucore (Gambar 3), passenger transport gondola, dan rope grabbing transport system

Infrastruktur, utilitas, dan semua sistem bangunan ini direncanakan berjalan secara otomatis. Perkiraan sampah dan kotoran yang mencapai 250 ton sehari diolah dengan menggunakan sistem total recycling. Sedangkan utilitas dan distribusi energi juga telah mendapatkan gambaran sirkulasi maupun sistem penanganannya. 


Gambar 3. Gambaran konsep kerja wall surface transit system (kiri) dan perujudan tri-matranya (kanan) (Sumber: Hyper Building Research Committee, 2005)

Masa Depan Bangunan Hiper

Di dalam laporan Komite Riset Bangunan Hiper (HBRC) ini juga menggarisbawahi kajiannya bahwa banyak manfaat yang akan diperoleh bila proyek ini terlaksana. Dari hasil analisis mereka, dengan penduduk yang sama, lahan kota hanya akan digunakan sekitar sepuluh persen saja. Untuk jangka panjang, hal ini akan mampu mengembalikan kembali keseimbangan alam kota. 

Banyaknya bahan bangunan yang dipakai bisa dihemat setengahnya, sedangkan gas CO2 (karbondioksida) yang dibuang dari “kehidupan” bangunan hiper ini adalah sepertiga dari yang ada saat ini. Secara transparan, komite ini juga mengemukan bahwa biaya pembangunan akan menjadi berlipat, meskipun setelah 120 tahun kemudian akan terasa lebih hemat dibanding membangun kota secara horisontal atau konvensional. 

Namun begitu, banyak masalah yang masih belum terpecahkan dan dalam waktu yang singkat akan sulit sekali untuk dikerjakan oleh komite. Karena, hampir semua bidang kehidupan manusia di kota dalam beberapa aspek harus terintegrasi dan terselesaikan secara baik. 

Manfaat lebih luas pada saat riset saat ini maupun pembangunannya pada masa yang akan datang terletak pada gagasan internasionalisasi. Kita dapat melihat kecenderungan bangunan tinggi saat ini pun sudah tidak konvensional lagi. Dengan bangunan yang menjulang ke atas, tetapi lebih komplek dengan kreatifitas tampilan beberapa gubahan massa (Gambar 4).


Gambar 4. Disain-disain gedung vertikal saat ini, yang tidak hanya lurus menjulang, tetapi lebih fleksibel dalam bentuk, memanfaatkan pergerakan horizontal dan diagonal di atas permukaan tanah. Kedua gambar di atas adalah disain terbaru dari Rem Koolhaas dan Office for Metropolitan Architecture (OMA), kiri adalah CCTV di Beijing, Cina yang akan selesai 2008 nanti dan kanan adalah Museum Plaza sebagai simbol baru masa depan di Lousville, Amerika Serikat (Sumber: OMA, 2006)

Rem Koolhaas, seorang arsitek kelahiran Belanda adalah salah satu arsitek yang diundang untuk mempresentasikan karya Hyper Building-nya pada tahun 1996 di Jepang (dengan tema Hyper Building at Bangkok City). Presentasi beliau tampaknya sedikit banyak telah mampu memasukkan ide revolusi menuju bangunan hiper ini. 

Meskipun telah disebutkan sebelumnya, saat ini masih terasa sebagai proyek hyper-production oleh banyak kritikus, karena memang biaya yang menjulang pada pembangunannya dan masih belum bisa menyajikan jalan keluar memecahkan permasalahan kompleksitas sebuah fungsi seperti kota. Minimal dari segi teknologi, kehadiran bangunan-bangunan ini bisa menjadi sarana awal bagi inovasi-inovasi baru, misalnya untuk mensiasati sistem transportasi, sistem keamanan struktur, sistem utilitas, dan sistem energi di dalam bangunan yang lebih komplek. 

Manfaat lainnnya diantaranya adalah sosialisasi wacana peradaban vertikal (vertical civilization), tumbuhnya industri baru (new industrialization) untuk menopang gagasan ini. Selain itu, tentunya juga mampu sebagai revolutionary alternative pada pemecahan masalah kota dan lingkungan yang memang semakin rumit dan komplek. Kita cermati saja. (Selesai).

Pencarian artikel ini: