Pertumbuhan wilayah kota yang tidak terkendali (sprawl) dan sering kali menerjang area konservasi lahan hijau, serta diikuti oleh bertambahnya komuter berkendaraan pribadi dari pinggiran ke pusat kota adalah salah satu sebab utama pentingnya gerakan kembali ke pusat kota (inner city development). Di beberapa negara semisal Inggris lewat urban renaissance-nya dan Amerika melalui smart growth-nya telah nyata-nyata mengembalikan minat dan antusiasme masyarakat kembali bermukim di pusat kota.
Pada pelaksanaannya, pemerintah lokal kota bisa mengadaptasi beberapa macam sistem, misalnya pengoptimalan ruang pusat kota (urban infill), peremajaan pusat kota yang biasanya sudah tidak produktif (urban revitalization), dan penerapan batas untuk pembangunan (development boundaries). Langkah-langkah ini diterapkan supaya pembangunan kota lebih optimal dengan meningkatnya densitas penduduk di dalamnya. Perubahan nilai ruang kota ini membawa beberapa akibat, seperti perubahan sosial budaya masyarakat setempat, dan secara ekonomi akan meningkatkan harga, sewa, dan pajak ruang kota, selain imbas spekulasi real estate.
Akibatnya, di beberapa bagian kota akan muncul kawasan atau komunitas baru yang baru, modern, dan mungkin mewah, yang secara alami berpengaruh pada eksistensi karakter komunitas lama. Kawasan ini juga menjadi sumber pengkonsentrasian OKB (orang kaya baru, dari golongan menengah ke atas). Dari sini pula efek jentrifikasi (gentrification) atau proses dalam sebuah kawasan atau komunitas di mana kaum miskin, para manula, lemah akses, akan terdisplasi (displaced, terpindahkan) ke luar kawasan atau kota, yang jika tidak segera ditanggulangi akan bermula.
Efek Jentrifikasi
Istilah jentrifikasi (gentrification) sendiri pertama kali dipopulerkan oleh sosiolog Ruth Glass untuk memotret permasalahan kota dan segregasi kelas sosial di utara London pada tahun 1964. Jentrifikasi sebenarnya adalah proses yang sporadik dan jarang pada awalnya, namun menjadi gejala umum dan global sebagai bagian strategi kota dewasa ini seperti ditulis oleh Smith (2002) sebagai globalisasi baru (new globalism) dan urbanisasi baru (new urbanism). Dalam perkembangannya selama hampir 4 dasa warsa, jentrifikasi banyak mengalami interpretasi beragam dengan banyak melibatkan berbagi displin ilmu.
Dua kutub yang mencolok dalam menginterpretasikan jentrifikasi ini adalah penjelasan jentrifikasi dari sisi produksi dan jentrifikasi dari sisi konsumsi. Pada proses pertama, jentrifikasi dijelaskan sebagai akibat proses pembangunan yang tak seimbang antara pusat dan pinggir kota, dengan adanya kesenjangan sejak tahap kebijakan, aliran kapital maupun pembangunannya. Proses kedua, yakni jentrifikasi sebagai proses konsumsi diyakini sebagai akibat dari keadaan alamiah yang “memaksa” untuk tinggal di kawasan baru, biasanya ini dilatarbelakangi oleh ideologi kelas menengah ke atas untuk kembali ke kota. Meskipun demikian, dua pendekatan ini disinyalir oleh Slater (2004) akan saling melengkapi untuk menganalisis proses jentrifikasi secara lebih baik.
Fakta dewasa ini pun menunjukkan, dengan semangat kembali ke kota atau banyak diimplementasikannya pendekatan kota kompak (compact city) di beberapa belahan dunia, membuat jentrifikasi diperhitungkan sebagai pedang bermata dua, bisa menguntungkan atau malah merugikan. Menguntungkan, jika ia mampu sebagai pionir untuk menyegarkan kawasan atau komunitas baru yang terbangun. Para peneliti mengelompokkan efek jentrifikasi ini dengan istilah emancipatory cityyang bisa jadi akan mengakibatkan hubungan serasi dan toleransi antar-kelas dalam masyarakat (Lees, 2002). Dan bisa pula merugikan, jika ia berperan sebagai agresor yang membawa petaka bagi masyarakat miskin sehingga mereka harus tersingkirkan ke luar dari komunitas asalnya. Para peneliti mengistilahkan ini sebagai revanchist city yang mempunyai makna bahaya, ancaman, dan penderitaan bagi para miskin dan kaum minoritas kota (Smith, 1996).
Kasus Jentrifikasi
Saat ini, seperti disitir oleh Smith (2002), jentrifikasi ini bisa beraneka ragam dan telah meluas ke hampir seluruh kota di dunia. Ini merambah dari kota di negara berkembang macam Kairo, Buones Aires, sampai Zurich, Brussel, Helsinki, atau London sebagai wakil negara maju. Secara geografis pun seimbang, mulai dari Toronto atau New York di sebelah utara sampai Adelaide atau Sidney di belahan selatan dunia. Butler (2005) menegaskan bahwa bagaimana pun jentrifikasi ini akan berbeda karena pengaruh internal semisal lokasi, derajat polarisasi sosial ekonomi, dan tradisi perkembangan kawasan atau kotanya, dan pengaruh eksternal karena hubungan antar negara atau jaringan lainnya.
Beberapa kasus spesifik dan beberapa efeknya dicontohkan di bawah ini.
1. Bilbao, Spanyol: Jentrifikasi Ekonomi
Di Bilbao, proses jentrifikasi diawali oleh rencana reformasi pusat kotanya, yang diakibatkan penurunan kegiatan industri (de-industrialisasi) dan ditinggalkannya pusat kota oleh sebagian besar penduduknya. Dengan tujuan menciptakan world class pusat kota, kegiatannya ditumpukan untuk menarik investasi ke pusat kota sejak awal 80-an. Caranya yakni membangun pusat kota dan infrastrukturnya dengan menggunakan jasa para arsitek dunia. Satu yang paling terlihat adalah Guggenheim Museum oleh Frank Gehry. Efek Guggenheim ini membuat jutaan wisatawan datang ke Bilbao setiap tahunnya, menghidupkan ekonomi warga sekitar, dan membuat pusat kota menjadi hidup kembali, meskipun tanah pun turut menjadi mahal.
2. Inner London, Inggris: Jentrifikasi Sosial
Di beberapa bagian di dalam London motivasi jentrifikasi adalah faktor-faktor semacam globalisasi, kapitalisasi, dan isu profesionalisme. Kondisi London pada umumnya telah terdapat segregasi kelas dalam masyarakatnya. Usaha pemerintah Inggris sejak tahun 70-an dalam menjalankan kebijakan peremajaan kota (urban regeneration disusulurban renaissance dewasa ini) menjadikan kelas menengah lebih mampu memanfaatkan hasil peremajaan kota, yang berakibat tersingkirnya masyarakat kelas bawah London.
3. Prenzleuer Berg – Berlin, Jerman: Jentrifikasi Politik
Prenzleuer Berg di kota Berlin adalah bekas kawasan kota di wilayah Jerman Timur, dikenal sebagai pusat mesin elektronik ringan. Dengan runtuhnya tembok Berlin pada tahun 1989 yang menandai reunifikasi Jerman (Barat dan Timur), maka kawasan Prenzleuer Berg termasuk kawasan rusak yang mendapatkan prioritas pembangunannya pada awal 90-an. Dengan beberapa inisiatif pembangunan secara intensif terutama akses yang sangat mudah di pusat Berlin, maka kawasan ini menjadi incaran banyak pendatang kelas menengah atas dari wilayah barat. Para penduduk asli lebih menikmati hasil penjualan investasinya untuk hidup di luar Berlin. Saat ini Prenzleuer Berg ini masuk menjadi salah satu kawasan mahal di wilayah kota Berlin.
4. Istanbul, Turki: Jentrifikasi Budaya
Istanbul adalah kota terbesar di Turki dan paling berpengaruh dalam aspek kebangsaan, terutama peran budayanya. Di samping itu dalam skala regional, Istanbul adalah penghubung antara barat dan timur. Pada akhir 70-an, Istanbul mencanangkan peran gandanya dalam program kotanya yakni sebagai kota tua yang teguh memegang budaya seni dan industri dan kota modern yang menjadi kunci perekonomian Turki. Efek yang terjadi pada fungsi pertama, yakni kembalinya para seniman dan artis Turki ke Istanbul, terutama di kawasan Kuzguncuk, di sebelah timur sungai Bosphorus. Ini merupakan salah satu contoh positif pula dari pendekatan sisi konsumsi dalam jentrifikasi.
5. Brooklyn Heights – New York: Jentrifikasi Super
Super gentrification digunakan untuk mengistilahkan proses intensifikasi pada kawasan yang mempunyai kategori mewah dengan komunitas elit di dalamnya. Biasanya ini terdapat pada kawasan-kawasan yang menjadi pusat kegiatan investasi dan konsumsi yang menyolok mata dan bertaraf dunia, salah satunya di Brooklyn Heights ini. Kawasan yang mempunyai pandangan yang sangat menakjubkan ke pelabuhan New York dan Lower Manhattan, dan menjadi salah satu kawasan awal di Amerika Serikat yang terjentrifikasi (tahun 60-an). Dengan pesatnya dunia investasi dan dipacu oleh efek global, kawasan ini terjentrifikasi untuk kedua kalinya oleh para profesional muda nan kaya raya. Oleh Hackworth dan Smith (2001) fenomena ini disebut sebagai gelombang ketiga dari jentrifikasi (third wave of gentrification). Dengan harga yang sangat mencolok, ditakutkan efek domino juga akan merembet ke dengan kawasan sekitarnya.
Itulah beberapa kasus dari beragam kondisi kota yang bisa dipetik sebagai contoh proses jentrifikasi kota-kota di dunia. Tidak bisa dipungkiri kebijakan kembali ke (pusat) kota dengan beberapa strategi di dalamnya akan membawa implikasi perubahan pada ruang kota. Hanya dengan kebijakan yang tepat serta usaha perujudannya yang konsisten dan tak kenal lelah, memungkinkan jentrifikasi akan bermata tunggal. Hidup berdampingannya semua lapisan masyarakat dalam sebuah kondisi yang “menyenangkan” dalam ruang kota, itulah hasil tebasannya.



